Makna Ritus Embob Jengea bagi Kebudayaan Dayak Wehea

Penulis

  • Seratinus Jong Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang
  • Sermada Kelen Donatus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang

DOI:

https://doi.org/10.69621/jpf.v17i2.165

Kata Kunci:

Ritus, Embob Jengea, Dayak Wehea, Kemanusiaan, Kebudayaan.

Abstrak

Studi ini membahas makna ritus Embob Jengea bagi kebudayaan Dayak Wehea. Ritus Embob Jengea adalah salah satu tradisi dalam budaya masyarakat Dayak Wehea yang menjadi ungkapan syukur atas hasil panen, di mana masing-masing orang tidak lagi cemas akan kekurangan makanan karena telah mendapatkan hasil panen yang melimpah untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Hal ini dikarenakan pertanian merupakan salah satu mata pencarian utama bagi budaya Dayak. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam serta kajian pustaka. Studi ini menemukan bahwa ritus Embob Jengea mengandung nilai-nilai, seperti kepemimpinan, syukur, penghormatan, persaudaraan, serta kesenian yang relevan bagi konteks kehidupan dewasa ini. Ritus Embob Jengea masih diwariskan dalam kebudayaan Dayak Wehea sampai saat ini.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Andasputra, Nico (2010, Mencermati Dayak Kanayatn, Pontianak: Institut Dayakologi,.

Bakker, J.W.M (2019), Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Kanisius.

Coomans, Mikhail (1987), Manusia Dayak: Duhulu, Sekarang, Masa Depan. Jakarta: Gramedia.

Daeng, Hans J (2008), ed. Kamdani. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan: Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Djuweng, Stepanus, Andasputra (2010), Nico, ed. Manusia Dayak: Orang Kecil yang Terperangkap Modernisasi. Pontianak: Institut Dayakologi.

Djuweng, Stepanus, Andasputra (2003), Tradisi Lisan Dayak yang Tergusur dan Terlupakan. Pontianak: Institut Dayakologi.

Krenak, Wolas dan Vincentius Julipin (2010), ”Manusia Dayak, Orang Kecil Yang Terperangkap Modernisasi”, dalam Nico Andasputra, Mencermati Dayak Kanayatn Pontianak: Institut Dayakologi.

Listiana, Dana (2021), Menelusuri Jejak Rempah di kalimantan Tengah Abad Ke-19 dan Ke-20, Bandung: Media Jaya Abadi.

Mackinnon, Kathy dkk. (2000), Ekologi Kalimantan. Jakarta: Prenhallindo.

Maunati, Yekti (2004), Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. Yogyakarta: LkiS.

Miden S., Maniamas (1999), Dayak Bukit: Tuhan, Manusia, Budaya. Pontianak: Institut Dayakologi.

Noerhadi, Toeti Heraty (2013), Aku dalam Budaya: Telaah Teori dan Metodologi Filsafat Budaya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Riwut, Tjilik, Sanaman Mantikei (2003), Maneser Panatau tatu Hiang: Menyelami kekayaan Leluhur. Palangkaraya: Pusakalima.

Saeng, Valentinus (2018), ”Religi Dayak Mualang dalam Mitos.” Dalam Kearifan Lokal Pancasila: Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan, ed. Armada Riyanto, Johanis Ohoitimur, C. B. Mulyanto, Otto Gusti Madung, 149-164.Yogyakarta: Kanisius.

Sermada Kelen, Donatus (2006), “Filsafat Ketuhanan (Pro Manuscripto)”, Diktat S1, STFT Widya Sasana.

Snijders, Adelbert (2004), Antropologi Filsafat Manusia: Paradoks dan Seruan. Yogyakarta: Kanisius.

Soekmono (2017), Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Kanisius.

Sudhiarsa, Raymundus I Made (2020), “Antropologi Budaya I Manusia, Budaya, dan Religiositasnya.” Materi Diskusi/Kuliah S1, STFT Widya Sasana.

Suriansyah Murhaini, The farming management of Dayak People’s community based on local wisdom ecosystem in Kalimantan Indonesia, Volume 7, Issue 12, Heliyon: Heliyon, https://doi.org/10.1016/j.heliyon. 2021.e08578. Sutrisnaatmaka, A.M., Sulang, Kusnis, eds. (2011), David Ardyanta. Budaya Dayak: Permasalahan dan Alternatifnya. Malang: Bayumedia.

Widjono, Amz., Haryo Roedy. (1998), Masyarakat Dayak: Menatap Hari Esok. Jakarta: Grasindo.

Unduhan

Diterbitkan

2022-12-01

Cara Mengutip

Jong , S. ., & Donatus, S. K. (2022). Makna Ritus Embob Jengea bagi Kebudayaan Dayak Wehea. Perspektif, 17(2), 169–181. https://doi.org/10.69621/jpf.v17i2.165

Terbitan

Bagian

Artikel