Interpretasi Kebenaran dalam Ruang Digital: Telaah Hermeneutika Paul Ricoeur

Autores/as

  • Stefanus Fernandes Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Indonesia
  • Dian Labo Mengkala Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Indonesia
  • Oktafiana Blandina Vianey Universitas Nusa Cendana, Kupang

DOI:

https://doi.org/10.69621/jpf.v20i1.287

Palabras clave:

Hoaks, Hermeneutika, Kebenaran, Media Digital, Paul Ricoeur

Resumen

Fokus kajian ini adalah “Interpretasi Kebenaran dalam Ruang Digital: Telaah Hermeneutika Paul Ricoeur”  yang dianalisis melalui berbagai sumber tulisan. Kajian ini menyoroti bagaimana konsep kebenaran dalam ruang digital dapat dijelaskan menggunakan pemikiran hermeneutika Paul Ricoeur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pembacaan kritis dan analisis teks. Pendekatan ini dilakukan dengan menelaah konsep kebenaran dalam kaitannya dengan pemikiran Paul Ricoeur, khususnya dalam konteks ruang digital yang semakin mendominasi proses pembentukan makna dan interpretasi. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa pengguna gawai dengan mudah memproduksi berita yang sering kali bertentangan dengan realitas. Hoaks dan ujaran kebencian kerap dianggap sah dan diterima sebagai kebenaran, sehingga kebenaran yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan bersama justru dikorbankan. Superioritas media digital telah membentuk ulang standar kebenaran, bukan hanya sebagai alat pendukung, tetapi juga sebagai faktor yang dapat menghambat dan bahkan merusak pemahaman akan kebenaran. Filsafat hermeneutika Paul Ricoeur menawarkan suatu pendekatan dalam memahami fenomena ini. Sebagai teori interpretasi, hermeneutika berperan dalam menguraikan makna yang tersirat dan memperjelas pesan-pesan yang ambigu. Dengan demikian, permasalahan dalam ruang digital dapat disikapi secara lebih bijak tergantung pada bagaimana seseorang menginterpretasikan informasi yang disajikan oleh media digital. Penelitian ini menemukan bahwa ruang digital tidak hanya menyediakan kebebasan berekspresi, tetapi juga menghadirkan tantangan baru dalam memahami kebenaran. Dominasi media digital dalam membentuk opini publik berpotensi mereduksi makna kebenaran itu sendiri. Oleh karena itu, pemikiran hermeneutika Paul Ricoeur dapat menjadi jembatan dalam menafsirkan kompleksitas interpretasi di ruang digital, membantu individu dalam memahami dan menyaring informasi secara lebih kritis.

Descargas

Los datos de descargas todavía no están disponibles.

Citas

Anshari, E. S. (1992). Ilmu filsafat dan agama. Jakarta: Bina Ilmu.

Ashari, M. (2019). Jurnalisme digital: Dari pengumpulan informasi sampai penyebaran pesan. Inter Komunikasi: Jurnal Komunikasi, 4(1), 1-16. https://dx.doi.org/10.33376/ik.v4i1.286.

Aristotle. (1984). Metaphysics. Trans. W.D. Ross. In The Complete Works of Aristotle, ed. Jonathan Barnes, Princeton University Press.

Audi, R. (ed.). (1996). Computer theory, dalam The cambridge dictionary of philosophy. Cambridge: University Press.

Bagus, L. (1991). Metafisika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Barnes, J. (ed). (1984). The Complete Works of Aristotle. Princeton University Press.

Bleicher, J. (1980). Contemporary hermeneutics: Hermenec: utics as method, philosophy and critique. London: Routledge & Kegan Paul.

Boestam, A. B., Prakosa, A., & Avianto, B. N. (2023). Upaya partai politik dalam memanfaatkan demokrasi virtual di era digital. Jurnal Pustaka Komunikasi, 6(1), 1-17.

Deni, M. (2022). Homo digitalis. Jurnal Akademika IFTK Ledalero, 20(02), 5-20. https://www.mediafire.com/file/pwris0jn4nggls8/akademika_mEI_2022.pdf/file.

Fathurokhmah, F. (2021). Pengetahun, sikap dan tindakan Dosen dan Mahasiswa KPI terhadap disinformasi di media sosial. Jurnal komunikasi dan Penyiaran Islam, 01(01), 21-43. https://doi.org/10.15408/interaksi.vlil.21118.

Gadamer, Hans-Georg (1975). Truth and Method. London: Sheed and Ward.

Gusmão, M. G. D. S. (2013). Hans-Georg Gadamer: Penggagas Filsafat Hermeneutk Modern yang Mengagungkan Tradisi. Yogyakarta: Kanisius.

Hardiman, F. B. (2021). Aku klik maka aku ada: Manusia dalam revolusi digital. Yogyakarta: Kanisius.

Hobbes,T. (2019). Leviathan. Chapter 30, Of The Office Of The Soveraign Representative, Global Grey.

Kelen, S. D. (2010). Bahasa digital; Komunikasi kebenaran?. Seri Filsafat dan Teologi Widya Sasana, 20(19), 31-52. https://stftwidyasasana-akademik.ac.id.

Keyes, R. (2004). The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life. St. Martin's Press.

Muhasim. (2017). Pengaruh teknologi digital terhadap motivasi belajar peserta didik. Jurnal Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan, 5(2). https://doi.org/10.36088/palapa.v5i2.

Mursidah, I. & Nursanik. (2020). Kritik nalar pemikiran politik Thomas Hobbes. Alqisthas: Jurnal Hukum dan Politik, 11(2). https://doi.org/10.37035/alqisthas.v11i2.3794.

Mau, M., Wulandari, S. R., & Unde, A. A. (2021). Masyarakat era digital dalam perspektif studi resiko dan peluang alogaritma media sosial. Jurnal Ilmu Komunikasi, 8(1). http://journal.unla.ac.id/index.php/dialektika.

Pamungkas, P. G. (2021). Distansiasi dan apropriasi dalam hermeneutika; Sebuah tinjaun hermeneutika Paul Ricoeur. Caritas pro Serviam, Edisi XXXIII, 66-77.

Purwonugroho, D. P. (2024). Membangun integritas dan moralitas: Kepemimpinan Kristen menghadapi Era Post-Truth. Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, 2(2), 29-45. https://ojs.sttkmu.ac.id/index.php/philoxenias/index

Putri, D. S. (2025, Maret 26). Rafi Ahmad beri giveaway Rp1 milliar untuk TKI. Suara.com, 1.

Ricoeur, P. (1992). From text to action: Essays in Hermeneutics, trans. Kathleen Blamey and John B. Thompson. Evanston: Northwestern University Press.

Ricoeur, P. (1976). Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning. Fort Worth: Texas Christian University Press.

Ricoeur, P. (1974). The Conflict of interpretations: Essays in Hermeneutics, ed. Don Ihde. Evanston: Northwestern University Press.

Saptowidodo, A. & Wijarnako, R. Iman dan pewartaan di era multimedia. Seri Filsafat dan Teologi Widya Sasana, 02(19), 1-33. https://stftwidyasasana-akademik.ac.id.

Schawb, K. (2016). Revolusi industri keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Saeng, V. (2010). Qua vadis subyek dalam imperium teknologi dan lautan media; Suatu tinjauan epistemologis. Seri Filsafat dan Teologi Widya Sasana, 20(19), 53-90. https://stftwidyasasana-akademik.ac.id.

Soebagio, E. (2020). Kebenaran dalam ruang media digital. Philosophica Et Theologica, 20(2), 127-141. https://doi.org/10.35312/spet.v20i2.209.

Sumaryono, E. (1993). Hermeneutik: Sebuah metode filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Syaifullah, I. (2018). Fenomena hoax di media sosial dalam pandangan hermeneutika. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Surabaya. https://digilib.uinsa.ac.id/22479/6/Ilham%20Syaifullah-E01213029.pdf.

Suharyanto, B. (2019). Post-Truth dan politisasi Agama dalam Pilkada DKI Jakarta. Jurnal Politik Islam, 12(3), 45-58Wahid, M. (2015). Teori interpretasi Paul Ricoeur. Yogyakarta: PT LkiS Printing Cemerlang.

Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I. Q.16, A.2 arg. 2.

Turing, A. M. (1950). Computing machinery and intelligence. Mind 49: 433-460. Mind 49: 433-460.

Wahid, M. (2015). Teori interpretasi Paul Ricoeur. Yogyakarta: LKiS.

Zimmermann, J. (2021). Hermeneutika: Sebuah pengantar singkat. Yogyakarta: IRCiSoD.

Publicado

2025-06-01

Cómo citar

Fernandes, S., Mengkala, D. L., & Vianey, O. B. (2025). Interpretasi Kebenaran dalam Ruang Digital: Telaah Hermeneutika Paul Ricoeur. Perspektif, 20(1), 79–96. https://doi.org/10.69621/jpf.v20i1.287

Número

Sección

Artículos

Categorías