Paroki, Wadah Perjumpaan Antarbudaya
DOI:
https://doi.org/10.69621/jpf.v15i1.10Palabras clave:
paroki, perjumpaan antarbudaya, satu, katolikResumen
Dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk lebih mendalami makna persatuan dalam jemaat paroki, karena semakin menjadi tempat perjumpaan antarbudaya. Dengan cara ini, penulis juga ingin menawarkan beberapa ide untuk para imam paroki, dewan paroki, dan jemaat Kristen itu sendiri, terutama dalam menghadapi interkultural, di mana umat Allah dari berbagai latar belakang bertemu. Lalu apa yang harus diperhatikan dalam membangun komunitas paroki yang sejahtera? Penulis menggarisbawahi pentingnya kompetensi antarbudaya bagi anggota masyarakat untuk mewujudkan dua karakter utama Gereja, yaitu kesatuan dan katolik.
Descargas
Citas
Adam, Karl (1954), The Spirit of Catholicism. New York: Doubleday and Company, Inc.
Balun, Bernard S. (2012), Paroki, Gereja yang Hidup. Yogyakarta: Penerbit Lamalera.
Dokumen Konsili Vatikan II (terj. R. Hardawirjana) (2009), Jakarta: Penerbit Obor.
Katekismus Gereja Katolik (1995), Ende: Nusa Indah.
Kitab Hukum Kanonik (1983), Jakarta: MAWI dan Obor.
Kleden, Budi (2012), “Yang tetap dalam KBG sebagai Cara Baru Menggereja”, dalam Bernard S. Balun, Paroki, Gereja yang Hidup, Yogyakarta: Penerbit Lamalera.
Parekh, Bhikhu (2008), Rethinking Multiculturalism: Keberagaman Budaya dan Teori Politik. Yogyakarta: Kanisius.
Seda, Francisia SSE (2011), “Menuju Gereja yang Makin Mengindonesia: Suatu Perspektif Sosiologis”, dalam Spektrum No. 4 Tahun XXXIX. Jakarta: Dokpen KWI, 75-93.
Yohanes Paulus II (1989), Para Anggota Awam Umat Beriman Kristus (Imbauan Apostolik Pasca Sinode “Christifideles Laici”. Jakarta: Dokpen KWI.
Descargas
Publicado
Cómo citar
Licencia
Derechos de autor 2020 Agustinus Lintang Adicahyo, Nicolas Gerardus Dimas Pramudita

Esta obra está bajo una licencia internacional Creative Commons Atribución-NoComercial-SinDerivadas 4.0.













