Jejak-Jejak Mistik di Balik Kesenian Bantengan Malang

Autori

  • Nico Hermiawan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang

DOI:

https://doi.org/10.69621/jpf.v8i2.40

Parole chiave:

Bantengan, trance, kesurupan, ndadi, danyang, setren, tirakat, sesajen, strategi kebudayaan.

Abstract

Bantengan is a traditional dance in the city of Malang. Local people believe the Bantengan existence as an ancient art of ancestors which is still passed down through the generations until today. In the Landungsari village, Dinoyo, Malang, Bantengan dance is still well preserved by local residents. In this village, who still carry the ritual of Bersih Desa, live more than three groups of Bantengan. Bantengan dance performances cannot be separated from the magical elements that indicate when the players experienced trance. A very positive response from activists Bantengan (artist) and the enthusiasm of its spectators show that  Bantengan is capable of being binding relationship between the local people with the universe surrounded them. This article is a small attempt to find a mystical element behind Bantengan dance that can be a unifying society. With the cultural strategy of C.A. van Peursen, we are invited to maintain the essence of our own culture and develop a cultural strategy to face the day of tomorrow.

Downloads

I dati di download non sono ancora disponibili.

Riferimenti bibliografici

Geertz, Clifford (1989), Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa,

Jakarta: Pustaka Jaya.

Handoyo, ed. (1989), Jaranan Jowo Timur (Kumpulan Makalah), Surabaya:

DEPDIKBUD Jawa Timur.

Hajid, Anan T. (2005), Orang Jawa, Jimat & Makhluk Halus, Yogyakarta: Narasi.

Purwadi, M.Hum dan Hari Jumanto, S.S. (2006), Asal Mula Tanah Jawa,

Yogyakarta: Gelombang Pasang.

van Peursen, C.A. (1989), Strategi Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius.

Zoetmulder, P.J. (1990), Manunggaling Kawula Gusti (terj. Dick Hartoko),

Jakarta: PT Gramedia.

Koran:

Kompas, Rabu, 21 Desember 2011.

Kompas, Minggu 9 Desember 2012.

Internet:

Hardjono Ws., http://jatidukuh.multiply.com/journal/item/17?&show_

interstitial=1&u=%2 Fjournal%2Fitem (diakses, 8 Desember 2012).

http://www.tribunnews.com/2012/09/10/gubernur-jateng-jatilan-kesenianterjelek-

sedunia (diakses, 21 September 2012).

http://bantengannuswantara.wordpress.com/2010/04/08/seni-tradisibantengan-

ii/ (diakses, 10 Desember 2012).

http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kanjuruhan (diakses, 10 Desember

.

NOTES:

Dukuh: Seperti Dusun, merupakan satu kesatuan teritori terkecil yang dipimpin oleh seorang

kepala dusun dalam suatu desa.

Bersih Dusun atau Slametan Desa, merupakan kegiatan bersama yang dilakukan oleh seluruh

anggota suatu dusun untuk memohon keselamatan bagi dusunnya. Bersih dusun ini dilakukan

setiap satu tahun sekali pada waktu tertentu sesuai dengan keyakinan setiap dusun. Setiap

dusun memiliki hari yang berbeda-beda dalam melaksanakan bersih dusunnya. Bersih dusun

ini tidak hanya mencakup pembersihan ruang fisik desa yang terlaksana lewat kegiatan

kerja bakti, melainkan menyangkut pengudusan ruang suatu kekuasaan atau teritori yang

menjadi dasar kesatuan dusun tersebut. Hal yang mau dibersihkan adalah roh-roh yang

berbahaya atau malapetaka yang terjadi di dusun tersebut selama setahun yang lewat. Ini

dilakukan dengan mengadakan Slametan di mana hidangan dipersembahkan kepada Danyang

Desa (roh penjaga desa) di tempat pemakamannya. Setelah Slametan, kegiatan dilanjutkan

dengan memeriahkan acara lewat pertunjukan berbagai kesenian tradisional. (Lih. Geertz,

: 110).

Kelompok Bantengan Turonggo Singo Bromo dibentuk pada tahun 2009 di dusun Ramba’an,

desa Landungsari, Dinoyo, Malang oleh sekelompok pemuda setempat yang diketuai oleh

Mas Alpan.

Sri Paduka Mahadewa Buda adalah seorang dewa dari tanah Hindi yang menjadi resi atau

guru orang Jawa, lalu menjadi raja Jawa yang berkuasa di Gunung Mahendra. Gunung

Mahendra sekarang adalah Gunung Lawu yang berada di perbatasan antara Surakarta dan

Madiun. Dia berkuasa mulai tahun anggila (140 S atau 144 C) selama 40 tahun. (Bdk.

Purwadi – Hari Jumanto, 2006:31).

Disampaikan oleh Handoyo dalam makalahnya “Mengungkap Asal-Usul Jaranan Dan

Perkembangannya Di Jawa Timur”, dalam Jaranan Jawa Timur, pada Temu Budaya

Daerah Jawa Timur II (DEPDIKBUD JAWA TIMUR), tanggal 27-28 Februari 1989 di

Surabaya. Pendapatnya segera disanggah oleh Tri Broto Ws. dalam acara yang sama pada

makalahnya “Asal-Usul Perkembangan Jaran Kepang” sebagai makalah pembanding. Tri

Broto mempertimbangkan aspek Zaman Pra-Sejarah dalam makalahnya tersebut.

Item-item yang ada di sini penulis amati dari kelompok Bantengan Turonggo Singo Bromo

dari desa Landungsari, Dinoyo, Malang. Pengamatan itu penulis lakukan dalam wawancara

pada 9 Desember 2012 sebelum kelompok tersebut mengikuti karnaval Bersih Dusun

Ramba’an, Landung sari, yang dilaksanakan pada hari yang sama.

jejak-jejak mistik - nico hermiawan

PERSPEKTIF 8/2/2013

LAMPIRAN

Gambar 4: Karnaval Bersih Dusun Ramba’an,

Landungsari, Malalang, 9 Desember 2012.

Gambar 3: Karnaval Bersih Dusun Ramba’an,

Landungsari, Malalang, 9 Desember 2012.

Gambar 5: Karnaval Bersih Dusun Ramba’an,

Landungsari, Malalang, 9 Desember 2012

Gambar 6: Karnaval Bersih Dusun Ramba’an,

Landungsari, Malalang, 9 Desember 2012

Gambar 7: Topeng Bantengan Gambar 8: Pecut (Cambuk)

Gambar 9: Jedor dan Kentong Gambar 10: Pemain yang kesurupan

memakan sesajen.

jejak-jejak mistik - nico hermiawan

##submission.downloads##

Pubblicato

2013-12-01

Come citare

Hermiawan, N. . (2013). Jejak-Jejak Mistik di Balik Kesenian Bantengan Malang. Perspektif, 8(2), 141–163. https://doi.org/10.69621/jpf.v8i2.40

Fascicolo

Sezione

Articoli

Categorie