Makna Simbol Hau Monef Bagi Masyarakat Timor-Suku Dawan
DOI:
https://doi.org/10.69621/jpf.v19i2.276Palabras clave:
Kebudayaan, Dawan, Simbol, Hau monefResumen
Waktu berubah, dan manusia pun ikut berubah. Ungkapan ini tetap aktual hingga kini, di mana manusia disadarkan akan hubungan erat antara waktu dan kreativitas. Dalam bingkai kehidupan sosial, pepatah ini menekankan bahwa dalam perjalanan hidup, cara-cara manusia mengekspresikan diri juga berkembang, yang pada gilirannya mempengaruhi usaha mereka untuk mencari makna yang berkaitan dengan diri, orang lain, alam, dan Tuhan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk berbudaya yang mampu menciptakan kebudayaan. Berkaitan dengan hal ini, tema yang diangkat dalam tulisan ini adalah "Makna Simbol Hau Monef bagi Masyarakat Timor-Suku Dawan." Penulis memilih tema ini karena melihat bahwa masyarakat Suku Dawan, terutama generasi muda, kurang memiliki kebiasaan untuk mencari tahu makna di balik setiap simbol dalam budaya mereka. Dengan demikian, tulisan ini diharapkan dapat membantu masyarakat Suku Dawan memahami makna di balik setiap simbol kebudayaan, terutama Hau Monef. Metode yang digunakan penulis adalah metode kepustakaan dan pengetahuan penulis, dengan merujuk pada berbagai sumber yang berkaitan dengan kebudayaan untuk penyempurnaan tulisan ini.
Descargas
Citas
Andung, Petrus. 2010. Perspektif Komunikasi Ritual mengenai Pemanfaatan Natoni sebagai Media Komunikasi Tradisional dalam Masyarakat Adat Boti dalam di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 8, No. 1.
Cassirer, Ernst. (1987). Manusia dan Kebudayaan: sebuah esay tentang manusia, Jakarta: Gramedia.
El-Faruqi, Ismail R. (1984). Islam dan Kebudayaan, Bandung: Mizan.
Herusatoto, Budiono. (1985). Simbolisme dalam Budaya Jawa, Yogyakarta: PT. Hanindita.
Lake, Reginaldo Christophori. (2014). Konsep Ruang Dalam dan Ruang Luar Arsitektur Tradisional Suku Atoni di Kampung Tamkesi di Pulau Timor. E-Journal Graduate Unpar Vol.1, No. 2.
Liliweri, Alo. (2014). Pengantar Studi Kebudayaan, Bandung: Nusa Media.
Martasudjita, E. (2003). Sakramen-sakramen Gereja: Tinjauan Teologis, Liturgi dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius.
Middelkoop, P. (1968). Migrations of Tim or ese Groups and the Question of Atoni Kase Metan rJr Overseas Black Foreigners . IAE Vol. Ll, No. 1.
Neonbasu, Gregor. (2011). We Seek Our Roots: Oral Tradition in Biboki, West Timor, Germany: Academic Press Fribourg Switzerland,
Neonbasu, Gregor. (2013). Kebudayaan: sebuah agenda: dalam bingkai Pulau Timor dan Sekitarnya, Jakarta: PT Gramedia Utama.
Peursen, C. A. Van. (1993). Strategi Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius,
Sawu, Andreas Tefa. (2004). Di bawah Naungan Gunung Mutis, Ende: Nusa indah.
Simamora, Tano. (1997). Rumah Batak: Usaha Inkulturatif, Pematang Siantar: STFT St. Yohanes.
Sobur, Alex. (2017). Kamus Besar Filsafat: Refleksi, Tokok dan Pemikiran, Bandung: CV Pustaka Setia.
Supriatin, Y. M., & Istiana, I. I. (2022). Kearifan Lokal Masyarakat Adat Sinar Resmi sebagai Identitas Bangsa. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol. 1, No. 2.
Tanouf, Paulus Sako. (1983). Mengintegrasikan Ibadat “Hauteas” ke dalam Iman Kristen di Paroki Kiupukan Timor (Skripsi), Yogyakarta: Pradnya Widya.
Wagiran. (2012). Pengembangan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Hamemayu Hayuning Bawana (Identifikasi Nilai-nilai Karakter Berbasis Budaya). Jurnal Pendidikan Karakter. Tahun II, No. 3.
Widagdo, (2006). Estetika Dalam Perjalanan Sejarah: Arti dan Perannya Dalam Desain. Jurnal Ilmu dan Desain (Bandung: Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Vol.1 No.1.
Narasumber Wawancara
Yoseph Moni, 59 tahun (Kepala Suku)
Yoki Berek, 48 tahun (Kepala Suku)
Hironimus Bouk, 58 tahun (Masyarakat Biasa)
Descargas
Publicado
Cómo citar
Licencia
Derechos de autor 2024 Hendrikus Rinaldi Amsikan

Esta obra está bajo una licencia internacional Creative Commons Atribución-NoComercial-SinDerivadas 4.0.














