Imanensi dan Transendensi Petara Raja Juwata Sebagai Wujud Tertinggi Orang Dayak Desa Kalimantan Barat
DOI:
https://doi.org/10.69621/jpf.v17i2.161Schlagworte:
Dayak Desa; Immanence; Petara Raja Juwata; Transcendence.Abstract
The focus of this study is to explain the immanence and transcendence of Petara Raja Juwata as the highest form of the Dayak Desa of West Kalimantan. The idea of the Dayak people of West Kalimantan knowing the Supreme Being arises from the human imagination that connects the events experienced with a force that rules the universe. The important thing about this Supreme Being is that this nature does not exist from itself but that there is something that creates it. The Village Dayak people call this Supreme Being as Petara Raja Juwata. Petara Raja Juwata is a center and a “religious” experience. Reli[1] gious life is a theophanic experience that affects all human life. Petara Raja Juwata is real, full of power, the source of all life and energy. Petara Raja Juwata is truly transcendent, a reality that does not belong to the world even though it is manifested in and through the world. Petara Raja Juwata is also essentially ambivalent, enchanting and frightening at the same time, the cause of life and death. Petara Raja Juwata is also approachable, He is immanent. He is close, lives and is involved in the daily life of the Desa Dayak people. This paper aims to describe, analyze the concept of Petara Raja Juwata as transcendent and at the same time immanent. The author uses a phenomeno[1] logical analysis methodology in the perspective of Valentinus Saeng in his presentation of the Mualang Dayak religion in myth. The type of research used is a qualitative research method. The findings in this study are that the Desa Dayak people in West Kalimantan are aware that Petara Raja Juwata as the Supreme Being of the Desa Dayak people is both immanent and transcendent.
Downloads
Literaturhinweise
Alloy, S. (2008). Mozaik Dayak (Keberagaman subsuku Dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat). Pontianak: Institut Dayakologi.
Algenii, Raffaele. (1980). Religione E Vita di Una Tribu Daya. Bologna: EMI.
Bagus, Lorens. (1996). Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.
Bamba, John (Ed). (2008). Mozaik Dayak Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat. Pontianak: Institut Dayakologi.
Coomans, Mikhail. (1987). Manusia Daya: Dahulu, Sekarang, Masa Depan. Jakarta: Gramedia.
Darmadi, H. (2016). Dayak Asal-Usul dan Penyebarannya di Bumi Borneo. Sosial Horizon, 3(2), 322–340.
Dhavamony, Mariasusai. (2017). Phenomenology of Religion. Rome: Gregoriana University Press.
Djuweng, Stefanus. (1996). Manusia Dayak: Orang Kecil yang Terperangkap Modernisasi. Pontianak: Institut Dayakologi.
Dove, R. Michael. (1985). The Role of Indonesian Traditional Culture in Modernization. Rome: Gregoriana University Press.
Florus, Paulus. (2011). “Puyang Gana” dalam Beni Phang dan Valentinus, Minum dari Sumber Sendiri. Dari Alam menuju Tuhan. Malang: STFT Widya Sasana Malang.
Hadiwijono, Harun. (1977). Religi Suku Murba di Indonesia. Jakarta: Gunung Mulia.
Haryo, W. Roedy. (1998). Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok. Jakarta: Gramedia.
Huijbers, Theo. (1992). Mencari Allah: Pengantar ke Dalam Filsafat Ketuhanan. Yogyakarta: Kanisius.
Juwaini, J. (2021). Konsep Tuhan Dalam Agama Kristen (Kajian Buku Sejarah Tuhan Karen Armstrong). Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama, 1(1), 84. https://doi.org/10.22373/arj.v1i1.9487
Koentjaraningrat. (1979). Manusia dan Kkebudayaan di Indoensia. Jakarta: Jambatan.
Koentjaraningrat. (1982). Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Koentjaraningrat. (1992). Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Lontaan, J.U. (1975). Sejarah Hukum Adat Istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Offset Bumirestu.
Leahy, Louis. (1982). Masalah Ketuhanan Dewasa Ini. Yogyakarta: Kanisius.
Miden Sood, Maniamas. (1999). Dayak Bukit: Tuhan, Manusia, Budaya. Pontianak: Institut Dayakologi.
Mikael, Agus Agustinus. (2010). Adat Istiadat dan Hukum Adat Pada Suku Dayak Desa. Pontianak: PPSDAK Pancur Kasih.
Paternus. (2001). Ngelala Adat Basa Dayak Mualang. Pontianak: PPSDAK Pancur Kasih.
Phang, Banny dan Valentinus. (2011). Minum Dari Sumber Sendiri, Dari Alam Menuju Tuhan. Malang: STFT Widya Sasana.
Rantan, Donatus. (1983). Perjumpaan Suku Dayak Ketungau dengan Injil Yesus Kristus. Yogyakarta: IKIP Sanata Dharma.
Riwut, Tjilik. (2003). Maneser Panatau Tatu Hiang; Menyelami Kekayaan Leluhur. Palangka Raya: Pusakalima.
Saeng, Valentinus. (2015). Religi Dayak Mualang dalam Mitos. Yogyakarta: Kanisius.
Subagya, Rachmat. (1979). Agama dan Alam Kerohanian Asli di Indonesia. Ende: Nusa Indah.
Sulha. (2020). Pelestaraian Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Dayak Desa Seneban Kecamatan Sejiram Kabupaten Kapuas Hulu. JPKN Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 4, 1–15.
Susanto, Hary. (1987). Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade. Yogyakarta: Kanisius.
Tondowidjojo. (1992). Etnologi dan Pastoral di Indonesia. Ende: Nusa Indah.
Ukur, Fridolin. (1971). Tantang Djawab Suku Dayak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Wawancara:
Interview seputar Petara Raja Juwata dalam budaya Dayak Desa, (2022).
Cornelius Liyun. (2022). Interview Seputar Ritual Adat Dayak Desa.
Ranu. (2022). Wawancara Seputar Wujud Tertinggi Dayak Desa. Interview seputar alam kepercayaan Dayak Desa.
Tomas Liam. (2022). Wawancara seputar Sejarah Suku Dayak Desa 2022. “Interview bersama Sekretaris Desa Tapang Semadak, Suku Dayak Desa seputar Konsep Petara Raja Juwata dalam Keyakinan suku Dayak Desa.”
Downloads
Veröffentlicht
Zitationsvorschlag
Ausgabe
Rubrik
Lizenz

Dieses Werk steht unter der Lizenz Creative Commons Namensnennung - Nicht-kommerziell - Keine Bearbeitungen 4.0 International.















