Mengakarkan Nilai Pertobatan Kristiani dalam Ritus Oke Saki
DOI:
https://doi.org/10.69621/jpf.v18i1.176Kata Kunci:
Inkulturasi, Budaya Lokal, Gereja Katolik Manggarai, Ritual Oke Saki.Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang ritual Oke Saki dan bagaimana ritual tersebut dapat menjadi sarana penanaman nilai-nilai Katolik di kalangan umat Katolik Manggarai sendiri. Pemahaman baru dalam Gereja Katolik yang mengakui bahwa ada benih-benih kebaikan dan keselamatan dalam agama dan budaya lain menyadarkan Gereja akan pentingnya mengakarkan iman dalam budaya lokal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain etnografi. Data primer dikumpulkan dari wawancara dan observasi langsung. Konsep ritual Oke Saki memiliki kemiripan dengan sakramen pengakuan dosa, karena keduanya merupakan usaha manusia akibat ulah manusia dan penyesalan atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya. Namun, ada juga perbedaan yang mendalam, salah satunya Oke Saki PERSPEKTIF 18/1/2023 42 menekankan dosa kolektif sedangkan Katolik menekankan dosa pribadi dan pertobatan. Gereja peduli akan dosa kolektif, tetapi pertobatan pribadi harus diutamakan. Karena kesamaan tersebut, ritus Oke Saki dapat diintegrasikan dengan liturgi sakramen tobat. Namun, studi lebih lanjut masih diperlukan karena pemahaman lain yang berbeda. Diperlukan upaya untuk memurnikan pemahaman yang bertentangan dengan iman, terutama yang mendiskreditkan kekuasaan Tuhan atas semua ciptaan-Nya. Inilah cara mengakarkan nilai[1]nilai Katolik dalam budaya sekaligus melestarikan kekayaan budaya lokal yang ada.
Unduhan
Referensi
Danin, Sudarwan, (2007), Menjadi Peneliti Kualitatif, Bandung: Pustaka Setia.
Edy, Marselinus, (29 September 2022), Oke Saki dan Tata Caranya, (Mario Constantino Teon, Pewawancara).
Hadiwardoyo, Purwa, (2007), Pertobatan dalam Tradisi Katolik, Yogyakarta: Kanisius.
Hartoko, Dick, (1986), Tonggak Perjalanan Budaya Sebuah Antologi, Yogyakarta: Kanisius.
Iskandar, (2008), Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial, Jakarta: Gaung Persada Press.
Koentjaraningrat, (1990), Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta.
Koentjaraningrat, (1993), Bunga Rampai Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Leteng, Hubertus, (2012), ‘Sambutan Bapak Uskup Ruteng’, dalam Martin Chen & Charles Suwendi (ed.), Iman, Budaya & Pergumulan Sosial [Refleksi Yubileum 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai] (hal. vii– xii), Jakarta: Obor.
Mukese, John Dami, (2012), ‘Makna Hidup Orang Manggarai Dimensi Religius, Sosial, dan Ekologi’, dalam Martin Chen & Charles Suwendi (ed.), Iman, Budaya & Pergumulan Sosial [Refleksi Yubileum 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai] (hal. 116–126), Jakarta: Obor.
Nggoro, Adi M., (2006), Budaya Manggarai Selayang Pandang, Ende: Nusa Indah.
Regus, Max, (2011), ‘Meniti Jalan Keselamatan’, dalam Gereja Menyapa Manggarai Menghirup Keutamaan Tradisi Menumbuhkan Cinta Menjaga Harapan Satu Abad Gereja Manggarai-Flores (hal. 289– 302), Manggarai: Yayasan Theresia Pora Plate.
Spradley, James P., (1979), The Etnographic Interview, New York: Harcourt Brace Javanovich College Publishers.
Spradley, James, (1997), Metode Etnografi, Yogyakarta: PT tiara Wacana.
Sutam, Ino, (2012), ‘Menjadi Gereja Katolik yang Berakar dalam Kebudayaan Manggarai’, dalam Martin Chen & Charles Suwendi (ed.), Iman, Budaya & Pergumulan Sosial [Refleksi Yubileum 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai] (hal. 157–190), Jakarta: Obor.
Sutrisnaatmaka, A. M., (2012), Segi-segi Hidup Beriman Misi, Evangelisasi dan Inkulturasi (Bert Tallulembang, ed.), Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.















