Tarian Tebe dalam Perspektif Teologi Publik: Makna Teologis Solidaritas dan Penerimaan terhadap Liyan
DOI:
https://doi.org/10.69621/jpf.v20i2.315Palavras-chave:
Tarian Tebe, teologi publik, solidaritas, liyanResumo
Tarian Tebe, sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya Belu, tidak hanya merepresentasikan ekspresi estetika seni, tetapi juga memuat dimensi sosial dan spiritual yang kaya. Lingkaran dalam tarian Tebe melambangkan persaudaraan, kebersamaan, dan solidaritas yang menciptakan ruang perjumpaan antara individu dan komunitas, termasuk relasi dengan liyan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji makna teologis tarian Tebe dalam perspektif teologi publik serta relevansinya bagi praksis iman Kristen di ruang sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode refleksi teologis-konseptual yang memadukan analisis budaya dan kerangka teologi publik. Hasil kajian menunjukkan bahwa tarian Tebe dapat dipahami sebagai simbol praksis iman yang menghidupi nilai-nilai Injili seperti solidaritas, inklusivitas, dan keterbukaan terhadap keberbedaan dalam konteks masyarakat majemuk. Tarian ini menghadirkan wajah teologi publik yang dialogis dan berakar pada budaya lokal, di mana iman tidak hanya diekspresikan dalam ruang liturgis, tetapi juga diwujudkan dalam relasi sosial yang konkret. Kontribusi ilmiah artikel ini terletak pada pengayaan diskursus teologi publik kontekstual melalui pembacaan teologis terhadap praktik budaya lokal sebagai medium pewartaan dan perwujudan iman yang hidup dan relevan bagi masyarakat.
Downloads
Referências
Ahimsa-Putra, H. S. (2012). Makna di balik gerak: Kajian antropologi tari. Gadjah Mada University Press.
Bevans, S. B. (2002). Models of contextual theology. Orbis Books.
Dreyer, Y. (2004). Public theology as a theology of resilience in sub-Saharan Africa: A public pastoral care contribution. HTS Teologiese Studies/Theological Studies, 60(3), 919–935.
https://doi.org/10.4102/hts.v60i3.543
Efriani, E., Praptantya, D. B. S., & Dewantara, J. A. (2020). Synchronization of the Catholic Church with Dayak culture of Kayan Mendalam. Studi Budaya Dayak dan Sinkronisasi Ritual Gereja Katolik, 2(1), 45–57.
Ensiklopedia STEKOM. (n.d.). Tari Tebe. Pusat Ensiklopedia Dunia.
Retrieved August 10, 2025, from https://p2k.stekom.ac.id
Fornal, J. (2019). Going beyond faith: Kierkegaard’s critical contribution to public theology. Political Theology, 20(4), 323–339.
https://doi.org/10.1080/1462317X.2018.1537417
Gabitov, T., Ismagambetova, Z., Karabayeva, A., Aubakirova, S., & Mukanova, Z. (2016). Circle dance as a symbolic form of culture. International Journal of Advanced Research, 4(6), 75–84.
Graham, E. (2016). Showing and telling: The practice of public theology today. Practical Theology, 9(2), 145–156.
https://doi.org/10.1080/1756073X.2016.1204047
Gutiérrez, G. (1988). A theology of liberation: History, politics, and salvation (Rev. ed.). Orbis Books.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.
Olo, M. G. (2024). Nilai-nilai simbolik dan budaya tarian Tebe masyarakat Belu Nusa Tenggara Timur (NTT). Atmosfer: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, Budaya, dan Sosial Humaniora, 2(4), 210–222.
Romiro, I. M. I., Tampani, Y. K., Bere, A., Kofi, Y. S., & Magalhaes, A. D. J. (2024). Nilai dan makna tarian Tebe di Desa Babotin Maemina Kecamatan Botin Leobele Kabupaten Malaka. Guruku: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora, 2(4), 174–185.
https://doi.org/10.59061/guruku.v2i4.803
Sampouw, F. A., Stefanus, T. A., & Windarti, M. T. (2021). Relevansi budaya dan adat Indonesia terhadap teologi Kristen. Jurnal Silih Asuh, 5(2), 101–115.
Schreiter, R. J. (1985). Constructing local theologies. Orbis Books.
Soedarsono. (1999). Seni pertunjukan Indonesia di era globalisasi. Gadjah Mada University Press.
Tillich, P. (1957). Dynamics of faith. Harper & Row.
Tillich, P. (1959). Theology of culture. Oxford University Press.
Tibo, P., & Martasudjita, E. P. D. (2024). Liturgical inculturation as an effort to maintain religious and cultural identity for Catholic students who are prospective catechists of the Batak tribe. Journal of Asian Orientation in Theology, 6(2), 161–192.
https://doi.org/10.24071/jaot.v6i02.7850
Tracy, D. (1981). The analogical imagination: Christian theology and the culture of pluralism. Crossroad Publishing Company.
Volf, M. (1996). Exclusion and embrace: A theological exploration of identity, otherness, and reconciliation. Abingdon Press.
Wodong, V. R., & Rumengan, P. (2023). Musik dalam seni tari Jajar: Sarana pewartaan kabar baik Allah dalam lingkup Gereja Katolik di Keuskupan Manado. Kompetensi: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni, 3(1), 1–12. https://doi.org/10.12345/kompetensi.v3i1.1956.
Downloads
Publicado
Licença
Direitos de Autor (c) 2025 Paskalis Rivaldo Ghari

Este trabalho encontra-se publicado com a Licença Internacional Creative Commons Atribuição-NãoComercial-SemDerivações 4.0.














