Religiusitas Tradisi Hudoq - Dayak Bahau dan Krisis Ekologis dalam Perspektif Laudato Si
DOI:
https://doi.org/10.69621/jpf.v17i2.166Palabras clave:
Hudoq, religiusitas, krisi ekologi, identitas, BahauResumen
Kajian ini menelisik hubungan antara ekologi dan identitas keagamaan masyarakat Dayak Bahau di Hudoq. Antara manusia dan alam, terdapat mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Ketika kita berbicara tentang orang Dayak, pada saat yang sama kita berbicara tentang alam. Dari kodrat itulah orang Dayak Bahau menemukan jati dirinya. Ketika modernisasi masuk dan merasuki pembangunan yang tidak ramah lingkungan, terjadilah krisis ekologis. Krisis identitas dan makna pun terjadi. Metode penelitian ini adalah kajian literatur dengan cara membaca, mendeskripsikan, menganalisis dan membuat refleksi implikatif. Tujuan dari penelitian ini, pertama, adalah mengajak setiap orang untuk kembali dan mencari jati diri dalam budaya lokal, khususnya dalam konteks hudoq. Di sisi lain, kedua, dari sudut pandang Laudato Si Surat Apostolik Paus Fransiskus, transformasi kehidupan diperlukan ketika berhadapan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kerap disalahgunakan untuk mengeksploitasi alam dan budaya manusia. Semua orang diajak untuk membangun kehidupan yang berintegritas, yaitu mengenal jati diri dan tumbuh dalam kesejahteraan.
Descargas
Referencias
Asung, Desi Daria dkk. 2019. “Religiositas Dalam Mitos Upacara Adat Hudoq Dayak Bahau Di Ujoh Bilang Kecamatan Long Bagun Kabupaten Mahulu” dalam Ilmu Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019.
Coomans, Mikhail. 1987. Manusia Dayak Dahulu, Sekarang, Masa Depan. Jakarta: PT. Gramedia.
Donatianus BSE, Praptantya, Efriani danJagad Aditya Dewantara. 2020. “Dange: Sinkronisasi Gereja Katolik Terhadap Budaya Dayak Kayan Mendalam”, dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya, Volume 22 No. 2 Tahun 2020.
Fukuyama, Francis. 2005. Guncangan Besar: Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Galvan, Jose L. dan Melisa C. Galvan. 2017. Writing literature reviews: A guide for students of social and behavioral sciences. New York: Routledge.
Gunawan, Asril. 2020. “Makna Simbolik Musik Daak Maraaq dan Daak Hudoq dalam Upacara Hudoq Bahau di Samarinda Kalimantan Timur” dalam JOGED Vol 16, No 2 (2020): Oktober 2020.
Harun, Martin (terj.) 2015. Ensiklik Laudato si Paus Fransiskus tentang Perawatan Rumah Kita Bersama. Jakarta: OBOR.
Maunati, Yekti. 2004. Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. Yokyakarta: LKIS.
Riyanto, Armada. 2018. Relasionalitas Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen. Yogyakarta: Kanisius.
Saeng, Valentinus. 2015. “Religi Dayak Mualang dalam Mitos”, dalam Armada Riyanto et. all, Kearifan Lokal-Pancasila: Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan. Yokyakarta: Kanisius, hal. 153-156
Saeng, Valentinus. 2015. “Trisilah Hidup Orang Dayak: Adil Ka’Talino, Bacuramin Ka’Saruga, Basengat Ka’ Jubata”, dalam Armada Riyanto et. all, Kearifan Lokal-Pancasila: Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan. Yokyakarta: Kanisius, hal. 505-514
Sudahana, I Wayan. 2009. “Eksistensi Rerajahan Sebagai Manifestasi Manunggalnya Seni dengan Religi”, dalam Imaji, Vol. 7 No. 2(2009), hal. 141–158
Williams, Raymond. 1980. Problems in Materialism and Culture. London:Verso.
Internet
https://fwi.or.id/publikasi/deforestasi-tanpa-henti/
https://www.pertanian.go.id/home/index.php?show=repo&fileNum=229
https://journals.plos.org/ploscompbiol/article?id=10.1371/journal. pcbi.1003149
Descargas
Publicado
Número
Sección
Licencia

Esta obra está bajo una licencia internacional Creative Commons Atribución-NoComercial-SinDerivadas 4.0.














