Persaudaraan Orang Manggarai yang Terkikis
Tinjauan atas Budaya Sida Manggarai Menurut Konsep Persekutuan Gabriel Marcel
DOI:
https://doi.org/10.69621/jpf.v19i1.217Palabras clave:
sida, relasi, intersubjektif, manggarai, persekutuanResumen
Fokus dalam artikel ini adalah membahas persaudaraan orang Manggarai yang terkikis menurut konsep Persekutuan Gabriel Marcel di tengah hadirnya budaya sida. Budaya sida adalah bentuk penghormatan dari anak wina (keluarga suami) kepada anak rona (keluarga asal istri) dalam berbagai acara penting. Penghormatan tersebut diberikan dalam bentuk partisipasi untuk meringankan tanggungan berupa uang atau barang. Budaya ini memiliki nilai-nilai luhur yang menekankan pentingnya hubungan yang harmonis antara manusia satu dengan yang lainnya. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur komparatif untuk mengeksplorasi hubungan antara budaya Sida dan konsep persekutuan Marcel. Temuan dari penelitian ini adalah bahwa budaya Sida dan konsep persekutuan Marcel sama-sama mengawali partisipasi sebagai dasar persekutuan. Namun, dalam budaya Sida, persekutuan didasarkan pada hubungan kekeluargaan, sedangkan dalam pandangan Marcel, persekutuan didasarkan pada hubungan intersubjektif. Hubungan intersubjektif inilah yang membuat orang saling membuka diri dan memahami satu sama lain.
Descargas
Referencias
Adon, M. J. (2022). Konsep Relasionalitas Orang Manggarai dalam Terminologi Hae Reba Menurut Filsafat Gabriel Marcel. TOTOBUANG, 10(2).
https://doi.org/10.26499/totobuang.v10i2.372
Baso, S. P., Moi, M. O. V., & Dawu, L. M. T. (2023). Konsep Matching dalam Budaya Sida Perkawinan Masyarakat Manggarai. Journal on Education, 5(2), 4923-4932. https://doi.org/10.31004/JOE.V5I2.1226
Bertens, K. (2006). Filsafat Barat Kontemporer Jilid II Prancis. PT Gramedia Pustaka Utama.
Borgias, F. (2012). Filsafat Sosial dan Filsafat Pendidikan Manggarai Belajar dari "Sokrates" Golo Momol, P. Florianus Laot OFM. In Iman, Budaya & Pergumulan Sosial: Refleksi Yubelium 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai (Chen, M., hal. 127-156). Obor.
Dafiq, N. (2018). Dinamika Psikologis Pada Masyarakat Manggarai Terkait Budaya Belis. Wawasan Kesehatan, 3(2), 98-104. https://stikessantupaulus.e-journal.id/JWK/article/view/48
Dawu, L. M. T., Baso, S. P., & Moi, M. O. V. (2022). Revealing the SIDA Culture in Manggarai on an Accrualbased Accounting Perspective. The Indonesian Accounting Review, 12(2), 203-211.
https://doi.org/10.14414/tiar.v12i2.2836
Deki, K. T. (2011). Tradisi Lisan Orang Manggarai, Membidik Persaudaraan dalam Bingkai Sastra. Parhessia Institute.
Fransiskus Gultom, A. (2019). Metafisika Kebersamaan Dalam Lensa Gabriel Marcel. In Antropologi Metafisika & Isu-Isu Kekinian (hal. 130). CV Lintas Nalar.
Goa, L. (2019). Relasi Intersubjektif Pembina dan Anak Asuh di Wisma Putera Bhakti Luhur Malang. SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral, 4(1), 37-45.
https://doi.org/10.53544/sapa.v4i1.67
Hariyadi, M. (1994). Membangun Hubungan Antarpribadi Berdasarkan Prinsip Partisipasi, Persekutuan, dan Cinta Menurut Gabriel Marcel. Kanisius.
Janggur, P. (2010). Butir-Butir Budaya Manggarai Jilid 1. Yayasan Siri Bongkok.
Kurnia, H., Dasar, F. L., & Kusumawati, I. (2022). Nilai-nilai karakter Budaya Belis dalam Perkawinan Adat Masyarakat Desa Benteng Tado Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur. Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial, 6(2), 311-322.
https://doi.org/10.22219/satwika.v6i2.22300
Ligu, S. (2016). Analysis Of The Meaning Of Ata Pe'ang Ko Ata One In Manggarai Culture (Tradition). JURNAL ILMIAH BAHASA DAN SASTRA, 3(1), 66-84. https://ejournal.unikama.ac.id/index.php/JIBS/article/view/1156
https://doi.org/10.21067/jibs.v3i1.1156
Manfour, K. (2021). Menjadi Manusia Partisipan di Tengah Pandemi. FOCUS, 2(2), 83-91.
https://doi.org/10.26593/focus.v2i2.5353
Nggoro, A. M. (2013). Budaya Manggarai, Selayang Pandang. Nusa Indah.
Oloan Tumanggor, R. (2015). Komunikasi Antar Pribadi Manusia: Suatu Tinjauan Filosofis. Jurnal Etika, 7, 1-11.
Osiana, D., Bagus Jaya Lesmana, C., & Ketut Putri Ariani, N. (2023). Mental Disorders with Sida Cultural Background in the Manggarai Tribe East Nusa Tenggara. Azerbaijan Medical Journal, 63(1), 6669-6676.
Pandor, P. (2015). Imanensi dan Transendensi Mori Kraeng sebagai Wujud Tertinggi Orang Manggarai. In A. Riyanto, J. Ohoitimur, C. B. Mulyatno, & O. G. Madung (Ed.), Kearifan Lokal Pancasila, Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan (hal. 85-108). Kanisius.
Pandor, P., Gon, V., & Domingus, H. A. (2023). Réis, Ruis, Raés, Raos: Frames of Intersubjective Relations of Manggarai People (Philosophical Studies Based on Gabriel Marcel's Concept of Intersubjectivity). Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 5(3), 1687-1699.
https://doi.org/10.34007/jehss.v5i3.1509
Sina, M. W. (2022). 46 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Terjadi di Manggarai Sepanjang 2021 | kumparan.com. Florespedia. https://kumparan.com/florespedia/46-kasus-kekerasan-perempuan-dan-anak-terjadi-di-manggarai-sepanjang-2021-1xIihNEE9cJ
Sugianto, H. O., Roe, Y. T., & Wati, F. (2022). Ritual "Kelas" Desa Wejang Nendong Kecamatan Pocoranaka Timur Kabupaten Manggarai Timur (Kajian Budaya Kenduri Kematian Dalam Adat Manggarai). Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah, 7(2), 1-17.
https://doi.org/10.37478/sajaratun.v7i2.2488
Urak, M. P., & Saffanah, W. M. (2023). Ritual Kelas pada Suku Rakas Manggarai. JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, 8(3), 1696-1707. https://doi.org/10.24815/JIMPS.V8I3.25247
Descargas
Publicado
Licencia
Derechos de autor 2024 Yulius Edward Indra Doris, A. Marisa Br. Hutagalung

Esta obra está bajo una licencia internacional Creative Commons Atribución-NoComercial-SinDerivadas 4.0.














