Perspektif https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf <p><strong>Perspektif, Journal of Religion and Culture</strong> è pubblicato per servire come mezzo di discussione e studio scientifico di questioni religiose e culturali, promuovendo la prospettiva della tolleranza e del dialogo tra le religioni e le culture per costruire l'armonia sociale.</p> <p>La rivista pubblica scritti scientifici, frutto di ricerche sul campo e di studi letterari, aperti ad accademici, ricercatori, osservatori sociali e religiosi e al pubblico in generale.</p> <p>La rivista viene pubblicata due volte l'anno, a giugno e a dicembre.</p> en-US j_perspektif@adityawacana.id (Perspektif) j_perspektif@adityawacana.id (perspektif) Wed, 31 Dec 2025 00:00:00 +0700 OJS 3.3.0.6 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Menyibak Kebijaksanaan Amsal 2:1-22 dalam Semboyan Masyarakat Dayak: “Adil Ka'talino, Bacuramin Ka'saruga, Basengat Ka'jubata” https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf/article/view/292 <p>Tulisan ini berfokus pada semboyan Dayak yang kini tengah menyeruak ke permukaan. Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara tradisi budaya, kitab suci, dan prinsip moral yang berkembang di kalangan masyarakat Dayak. Kebaharuan penelitian ini ialah menawarkan cara membaca intertekstual yakni bagaimana umat Katolik membaca teks suci dengan menghidupinya dalam khazanah budaya mereka dalam hidup bermasyarakat yang begitu lekat dengan tradisi leluhur hidup dalam keharmonisan antar suku. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian kepustakaan. Analisis dilakukan untuk memahami bagaimana nilai-nilai budaya lokal diintegrasikan dengan ajaran agama dalam konteks kehidupan sehari-hari. Temuan hasil kajian membuktikan bahwa masyarakat Dayak mampu mengubah tradisi kekerasan dan perdukunan menjadi semboyan persatuan (<em>Adil ka' Talino</em>), yang mencerminkan kebaikan dan keadilan universal dan meninggalkan hal-hal jahat yang merugikan sesama manusia. Dengan demikian hidup harus menjadi rukun dan damai (<em>Ba' curamin ka' Saruga</em>). Nilai <em>Ba'sengat ka' Jubata</em> mencerminkan kesadaran spiritual yang lebih tinggi, di mana masyarakat bergantung sepenuhnya kepada Tuhan yang mereka sebut (Jubata), sebab hidup ini bernafas dari kuasa-Nya. Semboyan ini tidak hanya berfungsi sebagai identitas budaya tetapi juga sebagai alat untuk membangun harmoni sosial di tengah keragaman yang ada di Kalimantan.</p> Jakarias, Gregorius Tri Wardoyo, Antonius Denny Firmanto Copyright (c) 2025 Jakarias, Gregorius Tri Wardoyo, Antonius Denny Firmanto https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf/article/view/292 Wed, 31 Dec 2025 00:00:00 +0700 A Study of The Sacrament Tree Program in St. Anthony of Padua Parish, Mbeling, From The Perspective of Leonardo Boff’s Eco-Spirituality https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf/article/view/310 <p>This article aims to examine the Sacrament Tree Program in St. Anthony of Padua Parish, Mbeling, from the perspective of ecotheology, with particular attention to Leonardo Boff’s eco-spirituality. The Sacrament Tree Program forms part of the local Church’s efforts to respond to the ecological crisis while fostering ecological awareness among the faithful in caring for and preserving God’s creation. This study employs a qualitative research design using a phenomenological approach, which focuses on the lived experiences of parishioners and pastoral agents in understanding and implementing the Sacrament Tree Program. Data were collected through interviews and a critical reading of Leonardo Boff’s ecotheological thought. The findings of this study indicate that: (a) the Sacrament Tree Program helps believers to recognize the importance of caring for the environment, affirming that ecological responsibility is an integral dimension of Christian faith and moral commitment; (b) the program serves as an educational medium that fosters a relational ethos and an awareness of the interdependence of all creation; and (c) the program extends beyond an ecological initiative, engaging the spiritual praxis of the faithful and strengthening their commitment to caring for the earth as a common home.</p> Patrisius Epin Du, Ferdinandus Panggung Copyright (c) 2025 Patrisius Epin Du, Ferdinandus Panggung https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf/article/view/310 Mon, 01 Dec 2025 00:00:00 +0700 Midodareni dalam Perspektif Sakramen Perkawinan Gereja Katolik https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf/article/view/322 <p>Sebagai mahasiswa Pendidikan Keagamaan Katolik, penulis memandang bahwa tradisi Midodareni merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang mengandung nilai-nilai spiritual dan moral yang selaras dengan ajaran iman Katolik. Tradisi ini dilaksanakan pada malam sebelum pernikahan sebagai bentuk doa dan permohonan berkat bagi calon pengantin. Melalui penelitian kualitatif-deskriptif berbasis studi pustaka, tulisan ini bertujuan untuk mengkaji makna teologis dan relevansi tradisi Midodareni dalam terang sakramen perkawinan Katolik, serta menyoroti bagaimana proses inkulturasi iman terjadi dalam kehidupan umat Katolik di Jawa. Hasil kajian menunjukkan bahwa Midodareni bukan sekadar ritual budaya, tetapi merupakan ekspresi iman yang hidup, di mana nilai-nilai kesucian, kesetiaan, doa, dan pengharapan akan rahmat Allah menjadi pusat maknanya. Gereja Katolik, melalui semangat inkulturasi, menghargai budaya lokal sebagai wadah untuk menghadirkan Injil ke dalam kehidupan masyarakat tanpa mengurangi kebenaran iman. Sebagai calon pendidik agama Katolik, refleksi atas tradisi ini menumbuhkan kesadaran bahwa pewartaan iman tidak dapat dipisahkan dari konteks budaya umat. Oleh karena itu, memahami Midodareni bukan hanya upaya pelestarian budaya, tetapi juga bentuk nyata pendidikan iman yang kontekstual dan berakar pada nilai kemanusiaan, kasih, dan keselamatan Allah.</p> Skolastika Dinda Ayu Maharani, Pius Intan Sakti X, Emmeria Tarihoran Copyright (c) 2025 Skolastika Dinda Ayu Maharani, Pius Intan Sakti X, Emmeria Tarihoran https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf/article/view/322 Wed, 31 Dec 2025 00:00:00 +0700 Kasih sebagai Pengalaman akan Allah dalam Diri Santo Titus Brandsma https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf/article/view/306 <p>Penelitian ini membahas kasih sebagai pengalaman transendental akan Allah dalam diri Santo Titus Brandsma, yang selama ini sering direduksi menjadi sekadar ekspresi moral atau sentimental. Berangkat dari kegelisahan atas pemahaman kasih yang cenderung sosial-sekuler, kajian ini mengangkat kembali dimensi mistik kasih yang bersifat kontemplatif dan aktif. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana kasih dihayati sebagai jalan perjumpaan pribadi dengan Allah dan bagaimana hal tersebut terwujud dalam kehidupan Titus Brandsma, terutama dalam konteks penderitaan dan perjuangannya melawan ideologi totalitarian. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan teologi spiritual dan fenomenologi pengalaman religius, melalui studi pustaka terhadap tulisan-tulisan Titus, dokumen Gereja, dan literatur spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Titus Brandsma memaknai kasih sebagai integrasi antara kontemplasi dan aksi nyata: kasih yang membentuk relasi personal dengan Allah sekaligus mendorong keterlibatan dalam penderitaan dan keadilan sosial. Kasih bukan hanya sebagai kebajikan, melainkan kekuatan rohani yang mengakar pada pengalaman iman yang mendalam. Kesimpulannya, kasih menurut Titus Brandsma adalah bentuk spiritualitas mistik-kontemplatif yang tetap relevan bagi Gereja dan dunia masa kini, sebagai respons atas kekerasan, kebencian, dan kekeringan rohani dalam masyarakat modern.</p> Ignasius Liberto Sando Kota Copyright (c) 2025 Ignasius Liberto Sando Kota https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf/article/view/306 Mon, 01 Dec 2025 00:00:00 +0700 Tarian Tebe dalam Perspektif Teologi Publik: Makna Teologis Solidaritas dan Penerimaan terhadap Liyan https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf/article/view/315 <p>Tarian Tebe, sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya Belu, tidak hanya merepresentasikan ekspresi estetika seni, tetapi juga memuat dimensi sosial dan spiritual yang kaya. Lingkaran dalam tarian Tebe melambangkan persaudaraan, kebersamaan, dan solidaritas yang menciptakan ruang perjumpaan antara individu dan komunitas, termasuk relasi dengan liyan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji makna teologis tarian Tebe dalam perspektif teologi publik serta relevansinya bagi praksis iman Kristen di ruang sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode refleksi teologis-konseptual yang memadukan analisis budaya dan kerangka teologi publik. Hasil kajian menunjukkan bahwa tarian Tebe dapat dipahami sebagai simbol praksis iman yang menghidupi nilai-nilai Injili seperti solidaritas, inklusivitas, dan keterbukaan terhadap keberbedaan dalam konteks masyarakat majemuk. Tarian ini menghadirkan wajah teologi publik yang dialogis dan berakar pada budaya lokal, di mana iman tidak hanya diekspresikan dalam ruang liturgis, tetapi juga diwujudkan dalam relasi sosial yang konkret. Kontribusi ilmiah artikel ini terletak pada pengayaan diskursus teologi publik kontekstual melalui pembacaan teologis terhadap praktik budaya lokal sebagai medium pewartaan dan perwujudan iman yang hidup dan relevan bagi masyarakat.</p> Paskalis Rivaldo Ghari Copyright (c) 2025 Paskalis Rivaldo Ghari https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf/article/view/315 Mon, 01 Dec 2025 00:00:00 +0700 Filsafat Anti-Korupsi: Membedah Hasrat Kuasa, Pemburuan Kenikmatan, dan Sisi Hewani Manusia di Balik Korupsi https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf/article/view/327 Stefanus Fernandes, Veronika Alviran Lembunai Copyright (c) 2025 Stefanus Fernandes, Veronika Alviran Lembunai https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://adityawacana.id/ojs/index.php/jpf/article/view/327 Mon, 01 Dec 2025 00:00:00 +0700